Comitment to The Nation: Perempuan dan Pendidikan Indonesia
Pendidikan di sekolah selama ini belum menghasilkan 'sesuatu'. Penilaian itu disampaikan Arifa Handayani, praktisi dan pemerhati pendidikan, penulis masalah parenting, serta pendiri Smart Parenting With Love Community. Berkaitan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, ia menilai, pengalaman selama ini menunjukkan, pendidikan di sekolah tidak menghasilkan manusia yang siap terjun ke masyarakat, dan menghasilkan sesuatu. Kebanyakan hanya berorientasi pada ingin mencari kerja, menjadi pegawai, dan berapa gajinya'. Pendidikan tidak menggiring murid untuk menjadi sesuatu dan menghasilkan sesuatu, baik bagi dirinya, oranglain, dan bagi bangsa.
Kesalahan juga bertambah, ketika orangtua menyerahkan pendidikan anak-anaknya ke sekolah. Orangtua lupa bahwa hakekatnya, Tuhan menyerahkan, menitipkan anak kepada orangtua untuk dididik. Sedangkan sekolah hanya sampingan saja. Sekolah tidak mungkin menemukan potensi atau keunggulan anak didiknya satu persatu. Sekolah hanya memfasilitasi. Kunci utama tetap ada di tangan orangtua.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, orangtua harus sadar sepenuhnya bahwa peran mendidik adalah tugas mereka, dan tidak lepas tangan dengan pendidikan di sekolah. Karena menurut reformis pendidikan, cara belajar di sekolah kebanyakan tidak sesuai dengan cara manusia belajar, yakni hanya fokus pada satu hal (guru). Padahal manusia diberi 5 panca indra yang harus digunakan. Tapi di sekolah semua potensi itu di kunci. Akibatnya anak beralih ke saluran lain seperti televisi dan internet karena lebih indah dari sekolah.
Sekolah harus membuat anak merasa butuh dan suka. kalau memang perlu untuk merubah paradigma pendidikan di sekolah, ubahlah. "Itulah mengapa komunitas Smart Parenting Community lahir. Kami tidak ingin mencuci otak para orangtua tentang mendidik anak. Kami tidak ingin anak-anak kami mendapat pendidikan seperti orangtuanya dulu", kata Arifa Handayani.



Post your comment