Jangan Mengungkit Kesalahan Anak

Kebiasaan orangtua menjadi pendengar yang buruk bagi anaknya, dan sikap orangtua yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, biasanya akan diakhiri dengan penutup yang menyakiti anak, yaitu mengungkit kesalahan anak.
Contoh kalimat dari orangtua yang bisa menyakti anak: “Tuh kan, mama bilang apa, kamu tidak pernah mau dengar sih, sekarang kejadian kan.. Makanya dengarkan kalau mama sedang bicara. Dasar kamu anak bebal sih”.
Awalnya, dengan kalimat itu orangtua berharap, anak akan belajar dari masalahnya. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya, anak menjadi sakit hati dan berusaha untuk mengulangi kesalahannya untuk membalas sakit hatinya.
Apa yang sebaiknya dilakukan? Jika kita tidak ingin anak berperilaku buruk lagi, jangan pernah mengungkit masa lalunya, atau kesalahan yang pernah dilakukan. Cukup dengan tatapan mata saja, kalau perlu merangkulnya dengan empati, lakukan sampai dia mengakui kekeliruannya sendiri. Lalu ucapkan, “Iya sayang, kita kan manusia biasa, setiap orang pasti pernah keliru, mama yakin, ini menjadi pelajaran berharga buat kita juga buat kamu. Mudah-mudahan besok kiat bisa membuat keputusan yang terbaik.
Bila yang terjadi anak yang mengungkit kesalahannya, tidak masalah. Dengarkan, anggukkan kepala, beri dia pujian karena pada akhirnya ia mau belajar dari pengalamannya. Katakan kepadanya, “Kamu memang anak mama yang luar baisa, mama bangga sekali kamu bisa mengambil hikmah dari kejadian yang kamu alami”. Jika ini yang kita lakukan, maka anak akan mendengarkan nasehat kita.



Post your comment