Provokasi: Ujian Kebersamaan

Seorang teman bertanya kepada saya, "Kamu kok kayaknya mesra aja sama istrimu? apalagi di FB". Saya jawab, "Siapa bilang, masalah pasti ada, hanya saja makin kesini kami makin mudah menyelesaikan masalah".
Cerita saya bertemu dan akhirnya menikah dengan istri cukup unik bagi saya. Kami dikenalkan teman SMA. Saat itu saya masih kuliah. Berbeda dengan sebelumnya, kalau ada janji dengan wanita saya selalu melakukan persiapan untuk tampil prima dan jaim. Tapi kali ini saya sudah lelah untuk jaim, biarlah saya apa adanya. Kalau rumus kimianya cocok, pasti ada reaksi. Tapi kalau tidak, maka berpura-pura pasti akan melelahkan.
Pertama kali, pandangan kepada wanita itu mengirimkan image. Setelah itu semua mengalir begitu saja. Kami mengisi waktu dengan banyak berdiskusi. Kami saling memberitahu definisi tentang cinta, hubungan, masalah, konflik dan sebagainya. Ternyata kami nyambung satu sama lain. Akhirnya kami menyatakan deklarasi. Kalau visi sudah sama, buat apa lama-lama?
Kami menjalin hubungan jarak jauh. Mulailah terkuak perbedaan-perbedaan, harapan-harapan yang membuat situasi layak disebut konflik. Hal-hal kecil bisa jadi sumber konflik, seperti konspe pertnangan, konspe pernikahan, nada suara yang kurang mesra dan sebagainya. Tapi kami berhasil menyelesaikan konflik. Kami bangun mental berbagi. Sinergi kami akan kuat jika dibangun diatas perbedaan.
Setelah menikah, masih ada perbedaan dalam kebiasaan hidup. Proses itu kami alami dan nikmati. Sekarangpun kami tidak terbebas dari masalah dan konflik, tapi dengan cepat bisa kami selesaikan. Penyelesaian didapat dengan proses perenungan, dan prioritas yang benar dan penting.
Apa yang membuat kami bisa menyelesaikan konflik adalah, kami selalu membicarakan masalah berdua saja, tidak ada orang lain. Memang untuk hal-hal berat kami meminta pendapat orangtua, tapi bukan dalam semangat curhat dan menumpahkan emosi, melainkan mencari pandangan. Kami tidak melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalah kami. Kemesraan kami saat inipun akan diuji.



Post your comment