Home | Provokasi | Provokasi: Pilih Dimarahi Bos, atau Dicuekin Bos?

Provokasi: Pilih Dimarahi Bos, atau Dicuekin Bos?

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Provokasi

Teman saya  mengeluh, "Malas jadinya, sudah cape-cape kerja, sampai malam, eh malah dimarahin". Saya katakan kepadanya, "Apakah kamu menyerahkan hidupmu pada orang lain? Apakah kamu membiarkan atasanmu mempengaruhi produktifitasmu? kalau kinerjamu menurun, maka kama akan semakin dianggap jelek".
Ia menjawab dengan melebarkan sasaran tembak kepada bos, "Tapikan pimpinan harus tahu bagaimana harus menghargai dan memotivasi anak buah".


"Kalau ada orang yang menyapa seseorang, tapi tidak dibalas, siapa yang mulia? Yang menyapa, atau yang tidak membalas sapaan? Orang yang punya rasa hormat adalah orang yang beradab dan bukan orang yang kekurangan. Kalau atasan tidak suka menyapa, maka ia perlu dikasihani, dan tugas anak buah untuk memberi cinta, memberi contoh kepadanya. Kita mendapat cinta dari Sang Sumber Cinta, cinta yang tiada habis-habisnya. kalau atasan marah, itu adalah bentuk perhatian. Sekarang kamu pilih mana, dicuekin atau dimarahi?" saya berusaha memprovokasi.


Cerita diatas mencontohkan bahwa kita sering diracuni dengan kondisi yang tidak menyenangkan. Padahal kita merasa sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Menghadapi orang yang sedang diracuni perlu kecerdasan emosi, yakni kuatkan dulu emosinya, akui, dengarkan, teguhkan, lalu angkat emosinya. Kondisi orang kalau sedang emosi adalah tidak cerdas, tidak bisa memaintance emosi, tindakan dan pikirannya tidak terkontrol.


Cerita diatas menggambarkan tentang seorang karyawan yang mengalami kejatuhan mental karena merasa sudah bekerja dengan baik. Penyikapan dari pegawai tersebut sangat kritikal, karena kalau salah, dia bisa berkubang pada kondisi yang buruk, dia merasa kecewa, dimarahi, penghukuman, dan cacat prestasi. Dia bisa memberi arti sedemikian atas peristiwa yang dihadapi, sehingga membuat dia disempower.


Kebanyakan orang memang tidak mau disalahkan. Menghadapi peristiwa seperti diatas yang bisa dilakukan dalam posisi sebagai karyawan adalah:


- Tempatkan diri sebagai karyawan. Jangan ikuti jargon bos/pemimpin, kalau ada jargon "tidak ada bosa yang salah, yang ada adalah anak buah yang salah", maka jangan menganggap "tidak ada anak buah yang salah, yang ada adalah bos yang salah"
- Anggaplah teguran dari bos sebagai bentuk perhatian, sebagai pelajaran, merasa beruntung karena masih ditegur. Anggap teguran bos itu sebagai ungkapan bahwa bos ingin kita lebih baik.
- Jadikan teguran bos sebagai pemicu untuk meningkatkan kompetensi. Karena dengan teguran itu bos ingin outcome kitat sesuai dengan harapannya.
- Jadilah anak buah yang punya rasa cinta.
- Jalin komunkasi yang baik dengan atasan. Kalau atasan anda baik, maka niat baik anda untuk menjalin komunkasi akan dibalas dengan baik. Tapi kalaupun tidak, jangan merasa rugi, karena anda justru terhormat. Ingatlah kepada Sang Sumber Cinta.
- Yakinlah bahwa atasan akan mengakui kalau kita memang punya potensi. Atasan akan mau memfasilitasi kalau kita memang patut untuk itu.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

Post your comment

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in

as