Provokasi: Salam Hormat, Silaturahim, dan Cari Muka

Di sebuah respsi, seorang teman berbisik, "Tuh kelompok pencari muka!", ujarnya sambil menunjuk ke arah sekelompok pejabat yang mengelilingi seorang petinggi perusahaaan. Mereka menyalami, tersenyum lebar, bahkan beberapa diantaranya hampir mencium tangan si petinggi perusahaan. Saya tidak tahu, apakah teman saya sinis kepada kelompok pejabat, atau muak dengan kelakuan beberapa orang yang menurutnya keterlaluan dan tidak pantas.
Tidak jauh dari situ, ada seorang mantan petinggi perusahaan. Ia hanya ditemani satu orang. Fenomena itu memberi pelajaran, bahwa jika suatu saat saya jadi seorang petinggi, saya harus ingat bahwa jabatan itu bukan kepemilikan yang kekal. Jadi kalau dikelilingi orang-orang jangan GR.
Cari muka tidak buruk. Cari muka bisa jadi baik kalau lahir dari niat silaturahim. Bukankah silaturahim memperpanjang umur dan mendatangkan rezeki?
Ada 2 jenis cari muka, cari muka pratagonis dan antagonis. Cari muka pratagonis berangkat dari mindset kaya. Paradigmanya memberi. Badan dicondongkan ke depan, meraih tangan, salaman dengan mantap, senyum, memandang yang disalami sebagai human being, dan ingin membagi waktu dengan teman-teman lain. Sedangkan cari muka antagonis berangkat dari mindset miskin. Paradigmanya mengemis, meminta, dan takut tidak kebagian. Badan ditundukkan, senyum mengumpan, berharap diperhatikan, memandang yang disalami sebagai human doing, ingin berlama-lama dengannya.
Tapi ini adalah undang-undang yang berlaku di peta saya sendiri, dan akan saya berlakukan untuk diri saya sendiri. Karena siapa tahu seseorang memang memberi penghormatan yang lahir dari paradigma memberi.



Post your comment