Momentum Recehan

Ketika Holywood menghentikan peredaran filmnya ke Indonesia saya gembira. Saya membayangkan momentum film kita akan mengambil alih film mereka. Tapi ternyata film nasional hanya berisi kuntilanak, pocong, dan suster ngesot. Momentum itu telah hilang. Film kita belum punya kebudayaan untuk menyambut momentum. Kesanggupan kita hanya sekedar menerima momentum recehan. Seperti halnya jika ada sebuah pembangunan mall raksasa, kita bukan bagian dari konsorsium pemodal, tapi hanya penyedia layanan satpam dan tukang parkir.
Itu bukan momentum, tapi buih dari ombak besar. Tapi kegembiraan akan momentum itu belum saya cabut. Karena persoalan Indonesia bukan film saja. Nonton film bagus itu bahaya bagi kita dalam soal waktu, karena ia membuat kita menghabiskan waktu hanya untuk nonton saja. Saking asyiknya kita lupa menggeser kedudukan kita agar menjadi pihak yang ditonton. Kita asyik menjadi tua, lalu mati sebagai penonton. Jika itu terjadi, maka generasi bangsa akan jadi penonton.
Apapun jenis kerugian bangsa ini, akan kecil jika dibandingkan dengan kehilangan waktu. Waktu kita diperdaya untuk nonton. Kalau waktu itu kita rebut kembali , maka kita jadi punya waktu untuk memartabatkan urusan bangsa ini. Soal film bisa diurus kemudian. Hal itu akan mudah jika kita telah sanggup mengurus politik, pertanian, dan lahan tidur. Saat ini, masalah pengangguran berdampingan dengan lahan tidur yang banyak. Lautan kita luas tapi kita mengimport garam. Beras dan buah-buahan banyak dari Thailand yang hanya negara kecil. Semua mungkin terjadi karena kemungkinan itu kita buka.
Selama ini ada jenis kehilangan besar bagi bangsa, yakni waktu untuk memartabatkan diri sendri. Momentum ini akan hilang lagi, karena film Holywood akan masuk lagi. Tontonan yang makin hari makin memukau. Harry Potter layak dikagumi. Ia cuma dongeng tapi sihirnya bekerja hingga ke dunia nyata. Persoalannya, selalu jadi penonton, itulah keadaan kita.



Kalo dikaitkan dengan refleksi Mas Pri tentang "Kedudukan Kerupuk", mengingatkan saya bahwa selama ini banyak urusan remeh-temeh dan tidak penting yang malah diurusi, sehingga terlupakanlah persoalan-persoalan yang penting. Mengurusi yang remeh-temeh itulah yang mengakibatkan diri menjadi lelah ketika harus urusi persoalan penting, dan akhirnya mendudukkan diri hanya menjadi penonton urusan penting.
Budaya semacam ini disorot dengan kritis oleh Mas Prie dalam memandang urusan kuntilanak, suster ngesot dan pocong yang menghiasi layar bioskop, menggantikan film-film Hollywood.
Terima kasih Mas Prie, ... Tulisan Anda menyadarkan saya bahwa diri ini tidak boleh hanya terbiasa menjadi penonton. Dan upaya saya mengamalkan pelajaran ini adalah dengan menulis comment disini, sehingga saya tidak hanya menjadi penonton tulisan indah Mas Pri, tapi berusaha untuk interaktif dengan sang penulis. :)
Salam.
Post your comment