Home | Refleksi Prie GS | Imajinasi Kebaikan

Imajinasi Kebaikan

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Refleksi Prie GS

Hingga SD kelas 3 saya mengalami ketertinggalan pelajaran. Sampai bulan ketiga kelas 3, pak guru mengatakan bahwa dia belum sempat ke pasar untuk membeli buku. Buku yang dimaksud adalah buku diktat pelajaran, yang harus dibeli di pasar kecamatan. Untuk ke pasar, pulang perginya harus naik sepeda ontel selama 3 jam. Akhirnya, pada 3 bulan pertama, pelajaran di kelas 3 hanya mengulang pelajaran di kelas 2.

 

Naik kelas 4 saya pindah sekolah di kota kawedanan. Dibanding desa yang lama, kota kawedanan ini besar dan maju. Bukan karena terlalu maju, tetapi karena desa sebelumnya yang terlalu tertinggal. Sekolah di sini modern untuk anak yang tertinggal seperti saya. Anak-anaknya juga bersih, pintar, dan makmur. Saya mengalami kejutan mental di sini. Bukan hanya soal mata pelajaran yang tertinggal, tapi juga soal pakaian. Saya paling berbeda karena sebuah ketertinggalan.  

Tapi pada bulan-bulan berikutnya, saya mulai terpesona dengan aneka pelajaran yang tidak pernah saya temui. Dulu pelajaran yang saya terima cuma  3: Bahasa Indonesia, berhitung, dan menulis huruf Jawa. Sedangkan di sekolah baru ada IPS dan  ilmu bumi. Saya dikenalkan dengan banyak tempat: nama-nama waduk, bandara, dan tempat-tempat penting lainnya. Saya yakin, guru saya belum pernah pergi ke semua tempat itu. Tapi ceritanya tentang tempat-tempat itu hidup sekali. Dia fasih bercerita tentang tambang batu bara Sawah Lunto, dan pelabuhan Bagan Si Api-api, tempat yang saya bayangkan sangat jauh.

Tapi hari ini, saya baru pulang dari undangan di PT Bukit Asam, Tanjung Enim Sumatera Selatan, yang dulu sering saya bayangkan kehebatannya. Di sana saya diinapkan di rumah dinas Pak Kuntoro, mantan dirut perusahaan. Saya mengagumi beliau, dan sekarang saya ada di rumah yang pernah beliau tempati. Saat ke Belanda; sahabat saya mengajak saya menginap di rumahnya. Dia mengatakan bahwa  kamar yang akan saya tiduri adalah  kamar yang dulu pernah ditempati Romo Mangun. Saya kaget dan bangga, karena pernah tidur di tempat orang-orang yang saya kagumi.

Kesimpulan saya, ada banyak kerinduan di dalam hati yang dirawat oleh alam semesta. Apa yang dirindukan akan disiapkan menjadi kenyataan di masa mendatang. Maka rindukanlah terutama kebaikan. (am)

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

Post your comment

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

5.00

Log in

as