Teman Lama

Undangan ini nyaris batal saya datangi karena alasan lelah. Selain itu secara teknis juga ribet, karena saya harus berangkat dan nyetir sendiri. Sendiri, jauh, malam, hujan pula. Lengkaplah penyebab kemalasan. Tapi akhirnya saya berangkat juga.
Ada dorongan untuk malas, ada dorongan untuk tetap pergi. Itulah watak tarik menarik dalam keputusan, termasuk keputusan yang tampak remeh. Keputusan remeh itu sejatinya tidak ada. Semua keputusan mengandung implementasi besar pada akhirnya, walau kebesarannya tidak terasa. Besar kecilnya keputusan sangat dipengaruhi oleh definisi kita atasnya. Dan itu sering tidak akurat. Besar kalau ia nyata didepan mata, menguntungkan dan berjumlah banyak. Ukuran banyak hanya sebatas panca indera. Yang gagal ditangkap panca indera atau yang abstrak dianggap tidak nyata.
Padahal besar sekali dukungan realitas yang abstrak bagi pertumbuhan hidup seseorang. Apakah itu berrupa atensi, kemungkinan, kesempatan, promosi dan doa. Semua itu tidak ada bentuknya tapi nyata. Itu adalah soal-soal tidak nyata jika panca indera ukurannya. Tapi diluar panca indera itu adalah kumpulan kenyataan yang riil yang besar perannya. Rekomendasi, kemungkinan, dan doa, lebih besar kekuatannya dari ijazah resmi. Banyak posisi diraih seseorang karena rekomendasi dari sekitarnya.
Maka setelah malam yang hujan dan sepi itu, saya bertemu realitas yang menakjubkan. Di mobil, saya bertemu teman lama, yaitu diri sendiri. Betapa lama saya tidak bertemu dengannya. Benar kami selalu bersama, tapi kami tidak selalu bertemu. Maka ketika kami bertemu, rasanya seperti bertemu teman lama. Kamipun kangen-kangenan dan ngobrol. Jarak kami yang dekat, selama ini terhalang oleh berbagai urusan. Urusan itu tidak benar-benar penting, sebagian bahkan malah remeh temeh. Akibatnya saya sering alpa menyapa teman dekat yang bernama “diri sendiri" (am)



Post your comment