Smart Community: Home Schooling
Home schooling saat ini banyak dijadikan forum pendidikan alternatif. Pendidikan luar sekolah ini dinilai efektif dna praktis. Saat ini di berbagai negara ada sekitar 6 juta home schooling terbesar, termasuk di Indoensia. Ahmad Susilo Hadi dari Departemen Sumber daya Manusia, Prasetya Mulya mengatakan, tantangan home schooling adalah bagaimana anak bisa melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi ke sekolah formal. Karena di Indonesia, keberasdaan bukti fisik berupa raport atau ijazah masih sangat diperlukan. Hal itu memang tidak bisa dihindari. Ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan di tanah air.
Sementara itu pakar pendidikan anak, Ayah Edi menilai, home schooling berangkat dari keraguan atau ketidakpercayaan orangtua terhadap proses pendidikan di sekolah. Ada penilaian bahwa sekolah merupakan salah satu tempat potensial bagi munculnya penyakit sosial, mulai dari meorok dan sebagainya. Banyak anak dinyatakan sebagai anak bermasalah oleh guru atau sekolah mereka. Padahal perlu dikaji kembali apakah yang bermasalah anak, guru, atau sekolah. Salah satu cacatan penting dari pendidikan formal/sekolah adalah, unsur moral dalam raport sangat lemah. Moral anak hanya diukur dari tingkat kehadiran, berapa hari dia masuk, absen, izin dan sebagainya, Tidak ada ukuran moral secara konkrit bagi pembangunan karakter anak.
Karena kondisi itulah banyak orangtua yang mencoba mengambil alih peran sekolah dengan melakukan home schooling bagi anaknya. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak-anak home schooling harus tetap bisa melanjutkan pendidikannya. Untuk itu perlu ada kerjasama antara pelaku home schooling dengan pihak sekolah atau perguruan tinggi, mengenai persoalan tersebut.



Post your comment