Home | Smart Economic Issues

Smart Economic Issues

Cabut Subsidi BBM

Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah BBM bersubsidi mulai mengerucut. Menteri ESDM Jero Wacik mengungkapkan akan ada 2 harga untuk BBM subsidi (premium dan solar). Harga BBM bersubsidi untuk mobil pribadi akan lebih mahal. Sedangkan untuk motor dan angkot pembeliannya akan dibatasi. ...

Relevansi Kepastian Hukum&Ekonomi

Perkembangan ekonomi membutuhkan adanya kepastian hukum. Kalau tidak, maka ekonomi hanya akan didukung dari konsumsi saja. Ini membahayakan, karena investasi seharusnya bisa menjadi motor perekonomian. Namun tidak adanya kepastian hukum, menjadi ancaman bagi iklim investasi. ...

Kesiapan Swasembada Daging Sapi

Pemerintah berencana melakukan swasembada daging sapi pada tahun 2014 mendatang. Namun rencana pemerintah itu dinilai amburadul, karena impor diturunkan secara drastis, sementara pasokan dalam negeri tidak memadai. Sensus sapi yang sudah dilakukan dinilai tidak meyakinkan, dan struktur populasi sapi di dalam negeri dinilai tidak bisa dipahami. ...

Hati-hati Dalam Berinvestasi

Penipuan berkedok investasi (investasi bodong) masih saja terjadi. Hal ini menandakan betapa tertariknya masyarakat dengan investasi, apalagi dengan janji imbal hasil yang sangat tinggi. Padahal pemberian imbal hasil yang sangat tinggi itulah yang patut dicurigai sebagai investasi bodong. ...

Kenaikan Tarif Listrik&Dunia Usaha

Pemerintah pada 1 Januari 2013 mulai memberlakukan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) sebesar 15% yang dilakukan secara bertahap setiap triwulan. Kenaikan TTL dilakukan agar subsidi listrik yang telah dianggarkan dapat digunakan secara efektif kepada masyarakat yang membutuhkan, dan pemerintah memiliki ruang fiskal untuk belanja infrastruktur. Pemberian subsidi energi saat ini sudah tidak efektif sehingga harus dikendalikan. Untuk itu masyarakat dan sektor industri (pengusaha) diharapkan bisa memahami kebijakan pemerintah tersebut. ...

Kartel Pangan & Kemiskinan

Komite Ekonomi Nasional (KEN) meminta Pemerintah untuk dapat segera mengambil tindakan cepat, dalam menghadapi tingginya harga-harga kebutuhan pangan, khususnya yang disebabkan karena adanya kartel komoditas pangan. Ketua KEN, Chairul Tanjung mengatakan, adanya kartel komoditas pangan saat ini mendorong harga pangan naik dan berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan. ...

Keuntungan Kebijakan Fiscal Cliff AS bagi Indonesia

Pada tanggal 31 Desember 2012 pemerintah dan Kongres AS menyepakati kebijakan Fiscal Cliff. Dengan kebijakan ini dilakukan penurunan defisit anggaran secara tajam akibat kenaikan pajak dan pengurangan belanja. Kebijakan ini terpaksa ditempuh pemerintah AS untuk menyelematkan ekonomi negara. ...

Utang Indonesia Sudah Dibawah 30% dari PDB

Total utang Indonesia hingga Maret 2012 mencapai Rp 1.859,43 triliun, naik Rp 55,94 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp 1.803,49 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang pemerintah itu berada di level 25,7%. ...

Perlukah Mencari Pinjaman Untuk Dana Siaga?

Pemerintah mengalokasikan dana siaga sebesar Rp 1,5 triliun untuk mencegah pemburukan sektor keuangan akibat krisis ekonomi Eropa. Dana ini ditempatkan Kementerian Keuangan di Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai lembaga yang memegang operasional pengelolaan dana siaga itu. Dana itu bersifat stand by (siaga dan kapanpun diperlukan dapat dicairkan). ...

Laporan Devisa Hasil Ekspor Bantu Stabilisasi Rupiah

Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 13/20/PBI/2011 tentang Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri sebentar lagi akan berlaku (2 juli 2012), khususnya ketentuan yang mengatur mengenai sanksi. Adapun PBInya sendiri telah berlaku sejak 1 Januari 2012. ...

1 2 3 next total: 25 | displaying: 1 - 10

Log in

Or you can

Connect with facebook

more in

Rekening Gendut Polisi


Sungguh sulit dipercaya bahwa ada seorang perwira pertama polisi, memiliki rekening gendut dengan jumlah yang amat fantastis, Rp 1,5 triliun. Jika pemilik rekening tambun itu seorang konglomerat misalnya, tentu bukanlah persoalan. Tetapi ini, seorang perwira dengan gaji resmi yang hanya sekitar Rp 3 juta. Bayangkan saja, bagaimana dengan gaji sebesar itu, ia bisa memiliki kekayaan yang sungguh membuat silau itu. Jika hanya mengandalkan gaji, pasti mustahil. Tapi rasanya, memang tidak ada yang mustahil di negeri ini. Karena segala keanehan dan kemustahilan itu, bedanya amat sangat tipis dengan kenyataan. Walaupun yang nyata itu tetap saja sulit dinalar....