Emotionomics: Mengubah Rasa Jadi Berkah

Istilah Emotionomic (Emotions+Economics) diperkenalkan oleh Dan Hill pada tahun 2007. Emotionomic meyakinkan kita bahwa emosi/perasaan yang dialami karyawan dan pelanggan di tempat kerja akan mempengaruhi hidup matinya perusahaan.
Kesalahan selama ini adalah emosi dianggap sebagai sesuatu yang perlu ditinggalkan di bisnis, emosi dianggap salah. Di lain pihak, ada seorang owner perusahaan pialang saham yang jatuh di saat krisis, tapi justru semakin disayang dan dipercaya ketika dia sharing sambil menangis.
Hampir tidak mungkin membuat keputusan bisnis tanpa melibatkan bagian dari emosi kita:
-Berinteraksi dalam bisnis: kita akan memilih berbisnis dengan orang yang kita sukai.
-Membeli dalam bisnis: kita membeli dari orang yang kita suka dan percaya.
-Advertising dalam bisnis: Journal of Advertising Research tahun 2002 menyimpulkan “emosi 2 kali lebih penting dari fakta”.
Kesimpulan penting soal Emotionomics:
1.Feeling lebih cepat dari logika
2.Sebagian besar dari yang terjadi tidak disadari
3.Hirarki emosi: rasa aman (security) ke rasa nyaman (comfort) , terus ke rasa puas (pleasure)
4.Feel/say gap antara laki-laki dan wanita
Tambahan:
-Ada unsur NEED dan WANT: orang membutuhkan makan, tapi cukup banyak orang yang ingin makan di restoran tertentu.
-Orang mempertimbangkan secara logika, tapi seringkali menggunakan emosinya pada saat mengambil keputusan membeli.
-Emosi (pain dan pleasure) seringkali menjadi sumber bisnis yang luar biasa.
-Semakin banyak tagline bisnis atau produk yang menggunakan emosi sebagai daya tarik.



Post your comment