Home | Smart Emotion | Dampak Karyawan Ber-EQ Rendah Bagi Perusahaan

Dampak Karyawan Ber-EQ Rendah Bagi Perusahaan

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Smart Emotion

Prilaku karyawan, pimpinan, atau siapapun dalam sebuah organsisi, bukan lagi menjadi prilaku pribadi, tapi menjadi prilaku organisasi. Prilaku mereka akan berdampak pada brand dan image organisasi yang diwakilinya. Begitu juga dengan karyawan yang kecerdasan emosinya rendah, mereka bisa menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Sebuah restoran fast food di Malaysia ditutup selama berbulan-bulan. Hal itu disebabkan oleh insiden yang terjadi antara pegawainya dengan seorang pelanggan. Saat itu seorang pelanggan mengomel karena ingin segera dilayani. Namun pegawai terpancing emosinya, dan memukul pelanggannya. Hal itu merupakan contoh kasus  karyawan ber-EQ rendah, dan dampaknya bagi perusahaan. Perusahaan harus menanggung kerugian besar, gara-gara masalah “emosi” karyawannya yang tidak terkendali.

Ada 4 kehilangan penting yang terjadi akibat karyawan ber-EQ rendah, yaitu: pelanggan, uang, orang, dan waktu. Untuk itu, sebuah organisasi harus memperhatikan masalah EQ pada karyawannya.

Kategori karyawan ber-EQ rendah yang bisa merugikan organisasi:

1.Tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri (You cant’t explain your self): sedang stress tapi tidak tahu, sedang marah tapi tidak sadar. Akibatnya menerima pekerjaan dalam kondisi stress dan marah.

2.Tidak bisa mengontrol diri sendiri (You can’t help your self): suka memaki dan memukul lalu menyesal. Akibatnya, perbuatan danperkataannya suka membuat orang sakit hati atau dendam.

3.Tidak bisa mengeri dan memahai orang lain (You can’t get it): sering tidak bisa mengerti orang lain. Akibatnya, tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, tidak bisa sineri.

4.Tidak peduli dengan orang lain (You don’t care): hanya focus pada dirinya sendiri. Akibatnya, tidak ada ikatan batin, team work tidak kuat.

Yang bisa dilakukan adalah:

-Re-Think: penyadaran ulang

-Re-Format: membunuh satu demi satu keyakinan, atau sebab di masa lalu yang mempengaruhi (terapi)

-Re-Place: menanamkan dan menawarkan alternative tindakan

-Re-Act: melakukan dan bersikap yang baru

-Re-flect: mempertimbangkan dan melihat hasil tindakan yang baru.

Apakah semakin tinggi posisi EQ semakin tinggi? Belum tentu! Karena jika digambarkan secara grafik, level skor EQ berdasarkan posisi dari staf bawah hingga level eksekutif, seperti huruf U. Artinya, di level staf EQ rendah, lalu ke supervisor dan manager EQ naik, tapi kemudian makin naik ke posisi eksekutif EQ kembali turun. Tapi tentu saja itu tidak berlaku secara umum. Karena toh ada juga CEO yang EQ nya tinggi.

 

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

Post your comment

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha
  • Email to a friend Email to a friend
  • Print version Print version
  • Plain text Plain text

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in