Home | Smart Happiness | Happiness Phobia

Happiness Phobia

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Smart Happiness

Happiness sering diidentikkan dengan santai-santai, bermalas-malasan, atau berleha-leha. Pemahaman itu membuat para pimpinan perusahaan mengalami “happiness phobia”, apalagi ketika melihat kondisi itu terjadi di tempat kerjanya. Mereka takut kalau karyawannya happy, maka mereka tidak akan produktif dalam bekerja.

Pimpinan perusahaan yang seperti itu beranggapan bahwa happiness tidak semestinya ada di kantor. Karena mereka mengidentikkan happiness dengan bermalas-malasan, bercanda, atau bercengkrama  dengan sesama karyawan. Mereka khawatir hal itu akan membuat target perusahaan tidak tercapai.

Padahal, happiness adalah itu sebuah produktifitas, karena ketika happy,  otak akan memproduksi zat kimia (dopamio dan serotonin) yang menghasilkan positif emotion, serta bahan yang amat penting bagi kreatifitas dan inovasi. Di tengah kompetisi bisnis yang sangat ketat saat ini, inovasi sangat  diperlukan.

Happiness phobia pada pemimpin perusahaan harus dihilangkan, karena kalau tidak karyawan bisa merasa tertekan dalam bekerja. Namun pemimpin juga perlu mengetahui apakah happiness yang ada di tempat kerjanya adalah happiness yang benar atau salah.

Ciri-ciri organisasi dalam happiness yang salah:

1.Happy nya bukan pada saat bekerja, tapi pada saat berkumpul/bersenda gurau dengan teman-teman.

2.Tidak ada inisitaf, hanya menunggu disuruh.

3.Banyak terjadi kesalahan yang tidak perlu dan  sudah berulang kali.

4.Ketika orang-orang menjalankan tugas semata-mata karena kewajiban.

5.Ketika orang sulit bergerak, terutama orang yang ada di posisi nyaman, karena  mengira itu adalah happiness.

Selain itu ada 4 level happiness yang perlu diketahui:

1.Level fisical: happiness hanya dianggap sebagai kesenangan fisik (pleasure)

2.Level emotional: happiness hanya ada dalam perasaan nyaman (comfort)

3.Level mental: happiness datang jika mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan masalah (satisfaction)

4.Level spiritual; ketika kita sadar bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang diberi nilai tambah untuk berguna bagi orang lain.

Happiness phobia hanya terjadi di kantor, karena happiness tidak dilihat sebagai produktfitas. Akikatnya banyak pemimpin perusahaan bermusuhan dengan happiness. Padahal jika dikella dengan baik, happiness yang tercipta di tempat kerja akan meningkatkan produktifitas karyawan.

 

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

Post your comment

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in

as