Smart Syariah: Ekonomi Syariah dan Ketahanan Pangan

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Sebagian besar konsumsi rumah tangga adalah kepada kebutuhan pangan. Ironisnya, pertumbuhan konsumsi pada kebutuhan pangan, tidak diikuti dengan pertumbuhan produksi pangan di dalam negeri. Pada beberapa hari terakhir ini, pemerintah terlihat panik dalam mengatasi masalah pangan. Harga sejumah kebutuhan pangan juga mengalami lonjakan, seperti beras dan cabai.
Pakar ekonomi syariah Dr. Syafii Anthonio menilai, hal itu disebabkan Indonesia belum mempunyai blue print tentang strategi pangan nasional atau food security strategy. Dalam ekonomi Islam/syariah, pangan merupakan hal yang penting dalam sistem perekonomian. Suatu bangsa tidak akan maju, jika perutnya masih kelaparan. Atau dalam ungkapan lain, suatu bangsa tidak akan maju, jika senjatanya dibuat orang lain. Dalam hal pangan, diartikan jika masih bergantung pada negara lain.
Untuk itu sudah saatnya Indonesia bangkit dibidang pangan. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:
- Menyusun blue print/strategi tentang ketahanan pangan nasional. Hal ini diperlukan agar produksi panganĀ terjadi secara berkesinambungan. Selama beberapa tahun, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Namun saat ini produksi beras diperkirakan sulit tumbuh. Belum lagi pada komoditi-komoditi pangan lainnya.
- Penyuluhan kepada petani. Selama ini bisa dikatakan petani terjun bebas dalam menggarap lahan-lahan pertanian. Mereka bergelut sendiri mencari dan mengolah lahan, mencari benih, pupuk, dan sebagainya. Petani jarang mendapat penyuluhan tentang cara bertani yang benar.
Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Tapi dengan kemauan dan upaya yang sungguh-sungguh, Indonesia bukan tidak mungkin akan menjadi negara agraris yang mandiri di bidang pangan.



Post your comment