Home | Smart Worker | Koperasi Buruh Migran Untuk Kesejahteraan

Koperasi Buruh Migran Untuk Kesejahteraan

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Pemerintah menyatakan fokus pada upaya pemberdayaan ekonomi TKI dengan menggulirkan program pelatihan kewirausahaan dan mendukung pendirian koperasi bagi calon TKI, TKI Purna dan keluarga TKI yang ada di daerah-daerah pengirim TKI. Dengan demikian diharapkan nantinya mereka tidak lagi berniat bekerja di luar negeri, karena telah menemukan lapangan pekerjaan yang baru yaitu wirausaha mandiri. Disebutkan bahwa pelatihan kewirausahaan dan usaha koperasi ini disesuaikan dengan potensi sumber daya alam yang tersedia di sekitar daerah kantong TKI, agar mereka dapat berhasil mengelola usaha secara mandiri, serta dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup TKI serta keluarganya.

 

Jenis-jenis pelatihan wirausaha yang dilakukan antara lain budidaya ayam, sapid an kambing, usaha konveksi, menjahit dan border. Selain itu ada juga pelatihan tat arias pengantin, tata boga, bengkel motor, sablon, percetakan, pengelasan, konstruksi skala kecil dan sebagainya. Sementara itu menurut data  Kemenakertrans per-Juli 2010 tercatat Jawa Barat merupakan daerah yang paling banyak mengirim TKI keluar negeri yang selanjutnya disusun oleh Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.

 

Officer  ILO Jakarta, Irham mengatakan, keberadaan pelatihan kewirausahaan dan koperasi bagi TKI memang dibutuhkan sebagai tempat pengelolaan dana.  Pasalnya selama ini TKI belum cermat dalam menggunakan dana hasil kerjanya di luar negeri. Penelitian tahun 2010 tentang penggunaan remitansi di 8 propinsi menunjukkan, penggunaan terbesar dana kiriman TKI adalah untuk membayar utang (38%), kebutuhan sehari-hari (26%), biaya pendidikan (22%), perumahan (8%). Ironisnya penggunaan untuk tabungan Cuma 1% dan investasi produktif cuma 4%. Bahkan jika dibreakdown, investasi wirausaha Cuma 0,5%, kebanyakan untuk beli hewan ternak dan sepeda motor. Pola ini harus dirubah, agar kehidupan TKI dan keluarganya meningkat. Mereka harus diarahkan untuk berinvestasi secara produktif.

Sejak tahun 2007 ILO sudah melakukan latihan wirausaha untuk TKI dan keluarganya. Latihan  tersebar di 50 kapupaten/kota di 9 propinsi. Saat ini 60% diantaranya sudah memiliki usaha sendiri. Sayangnya dukungan dari pemerintah terhadap hal ini belum optimal, termasuk dalam mendorong penggunaan dana remittance ke investais produktif dan koperasi TKI . Padahal Indonesia merupakan Negara dengan buruh migrant terbesar kedua setelah Filipina, dengan jumlah remitanse mencapai 6,7 miliar US$.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

Post your comment

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in

as